Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Berita Terkini

latest

Punahnya Kearifan Lokal Bertani di Tanah Mandar

INDONESIANPOINT.COM - Polewali Mandar, Indonesia adalah negara agraris tumbuh dengan manusia-manusia yang hampir semua lakon hidup nya ...

INDONESIANPOINT.COM - Polewali Mandar, Indonesia adalah negara agraris tumbuh dengan manusia-manusia yang hampir semua lakon hidup nya mengharap pada tanah. Tanah sebagai simbol penghidupan bagi mereka menjadikan indonesia sebagai negara yang kuat akan pangan Dan sandang.

Saddam Husain

Hal ini menjadi sebuah pondasi besar pada masyarakat untuk meninggkatkan hasil-hasil pengharapan mereka kepada tanah dan sumber daya alam lainnya. Katanya! Di Provinsi Sulawesi barat Sendiri, ia menjadi manivestasi Wilayah Agraris yang kaya dengan sumber daya Alam nya, di lihat dari beberapa Kabupaten yang ada di Sulbar yang sumber penghasilannya lebih banyak di ambil dari hasil bumi. Proses ini pun sejak dahulu para leluhur melakukannya sampai pada lapisan generasi dari ke generasi,hidup yang tak jauh dari lakon pertanian. Kabupaten Polewali Mandar pada umumnya secara geografis wilayah, masyarakat nya lebih banyak menghabiskan waktu pada Proses-proses hidup berdampingan dengan Tanah. Pola pertanian pun semakin modern dari yang dulu nya tidak memakai Pestisida pada tanaman sampai pada proses penggunaan pestisida atau lebih di kenal dengan istilah (pertanian konvensional) dan Ini sangat berpengaruh besar pada pertumbuhan ekonomi masyarakat bawah yang mengabdikan dirinya untuk menjadi pekerja panen pada padi (pa'doros) karna jasa mereka pun sudah tak lagi di gunakan oleh para pemilik lahan sawah sejak adanya mesin Kombine itu. Mekanisasi pertanian pun sekarang makin canggih, dulu Petani hanya menggunakan Kerbau untuk mengolah lahannya, tapi diera sekarang sudah banyak mesin-mesin cangih yang mampu mengolah lahan dengan cara cepat. Hal ini mengakibatkan banyak nilai-nilai lokal yang secara tidak sadar mulai terkikis secara perlahan, misalnya dengan kehadiran mesin kombine yang di pakai memanen padi. Nah, alasan ini yang menjadikan masyarakat petani keluar dari prinsip atau lakon hidup mereka yang mengakibatkan pengetahuan lokal dalam kerja-kerja bertani sudah mulai terkikis dari akar nya. Tidak hanya itu ada satu paradiqma besar atau filosofi pada tanah yang tak lagi mampu di baca para petani hari ini, yakni (fungsi sosial tanah yang mulai tak di hargai lagi bagi mereka para petani). Padahal kita tau bahwa tanah adalah sumber penghidupan bagi mereka yang hidup dalam kerja-kerja petani. Kalo melihat dari sejarah,Sejak tergalaknya revolusi hijau pada tahun 1976 masyarakat indonesia pada umumnya sudah mengenal dunia pertanian konvensional yang di mana semua pola pertanian sudah menggunakan Pupuk kimia sampai sekarang. Jika hal ini terjadi terus menerus pada generasi, maka kita sebagai kaum muda (Milenial) akan menjadi penikmat saja dari hasil tani tanpa kita sadari bahwa ini adalah masalah besar yang meninabobokkan kita. Bahkan bukan hanya pengetahuan lokal yang mengisahkan banyak luka dari ketidak pedulian manusia, tapi kondisi ini mengakibatkan banyak nya kaum muda millenial yang enggan belajar soal menggapai hidup dalam kerja-kerja bertani. Ini terbukti, ketika kita melihat data masyarakat pada usia pelaku tani, rata-rata yang aktif dalam lakon tani berada pada kisaran usia 30/70 tahun. Salah Satu Petani yang menggunakan Pertanian Alami, Arifuddin (24 thn) dulu nya ia seorang Mahasiswa mengambil jurusan Teknik Informatika di salah satu Kampus ternama di Sulawesi barat, meskipun tak sempat menyelesaikan Study nya karna beberapa kendala, sekarang beliau mewakafkan dirinya menjadi seorang petani muda di salah satu Desa yang ada di Kecamatan Luyo. Begitu pun dengan Aco Irwan (28 thn) seorang lulusan magister Sosiologis Alumnus UNM yang juga seorang Ketua di salah satu kelompok Sarekat tani alami Mesa Paindo ini yang tinggal di Kecamatan Campalagian, Desa Lampoko, kini iya juga beralih profesi menjadi petani muda. Karna ia percaya bahwa kerja-kerha Petani nenek moyang bisa dikembangkan kembali dan tidak menelang Korban yang terjadi karna Pupuk Kimia. Iya pun mencoba mengolah lahan sawahnya yang tidak kurang dari 20 are persegi dengan harapan mampu memacu para kaum muda untuk kembali mengenal tanah dan pertanian. Arif yang di kenal pendiam di kampung nya kini menjadi sosok pemuda yang ulet dan aktif, bergaul ke siapa saja terkhusus pemuda dengan harapan bisa berdiskusi soal tani dan tanah yang di mana ia mencoba merubah pola masyatakat dari yang memakai kimia beralih ke pola pertanian nenek moyang yang tampa meracuni tanah dan tanaman (pertanian alami). Proses ini pun baru iya lakoni dari pertengahan tahun 2019 kemarin hingga kini iya tetap konsisten memengang erat pesan para leluhur yang mengatakan jangan sesekali merusak tanah dan seisinya.

Tidak ada komentar