Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Berita Terkini

latest

COVID-19, ANTARA KEPATUHAN DAN PENDAPATAN

INDONESIANPOINT.COM - Corona Virus Desease 2019, atau Covid-19, kini  menjadi sangat disegani, sangat ditakuti karena daya bunuhnya  terama...

INDONESIANPOINT.COM - Corona Virus Desease 2019, atau Covid-19, kini  menjadi sangat disegani, sangat ditakuti karena daya bunuhnya  teramat dasyat.

Hasanuddin Atjo

Mahluk kecil yang tidak terlihat  kasat mata ini  tidak kenal umur, tidak kenal status, dan tidak kenal wilayah. Kaya, miskin ; Pejabat dan bukan pejabat; Negara adidaya dan bukan adidaya semua diserangnya.

Update per tanggal 7 April 2020,  covid-19 telah menyebar ke 211  dari 241 Negara dengan yang meninggal 62.955 dari kasus 1.136.851.  Dan secara Nasional meninggal 209 orang dari 2.491 kasus positif.

Beberapa Negara dinilai sukses menekan laju penyebaran virus ini maupun dampaknya. Namun ada juga yang dinilai  kurang sukses. Jerman, Singapura dan Korea Selatan, contoh Negara yang sukses, karena angka kematiannya  rendah (kurang dari satu persen). Sedangkan Italia, Spanyol dan  Amerika Serikat contoh kurang sukses, karena angka kematian tinggi (kurang lebih 10 persen ) dari kasus positif.

Kepatuhan warganya dalam  menerapkan Social dan Physical  distancing,  seperti tinggal  di rumah saja, kerja dari rumah serta penerapan sanitasi dan asupan gizi yang sesuai, adalah menjadi kunci sukses Negara  tersebut untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 serta menekan dampaknya.

Patuh tetap di rumah , kerja dari rumah serta penerapan sanitasi dan asupan gizi yang sesuai dan cukup akan dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu:  Attitude atau perilaku; Tingkat Pendapatan serta;  Penguasaan teknologi digital.

Tiga Negara sukses, disebabkan warganya patuh menjalankan SOP yang telah ditetapkan. Warga ketiga Negara tesebut punya attitude patuh, disiplin. Memiliki pendapatan lebih dan menguasi teknologi digital yang antara lain dipergunakan dalam  belanja online sebagai regulasi pembatasan sosial. .

Tiga Negara kurang sukses memiliki semua, kecuali terkait dengan attitude. Ketiga Negara itu cenderung kurang patuh dan disiplin terhadap anjuran dan penerapan SOP yang telah ditetapkan.

Bagaimana dengan Negeri ini, Indonesia. Sesungguhnya ketiga faktor itu juga dimiliki negeri ini, namun persoalannya kondisi tidak merata dengan tingkat ketimpangan yang tinggi.

Bagi yang berpendapatan tetap dan menguasai teknologi digital seperti ASN, Pgawai Swasta atau pengusaha tidak jadi soal. Kelompok ini bisa dipaksa patuh di rumah saja , bekerja dari rumah, bisa memesan makanan karena ada uang tabungan dan menguasai digital untuk belanja menggunakan aplikasi.

Yang bersoal adalah kelompok pekerja serabutan, kelompok berpendapatan harian. Mereka harus keluar rumah bekerja agar mampu membeli keperluan hidup sehari-hari,  meskipun mereka juga menguasai dan familiar dengan teknologi digital.Artinya pendapatan dan adanya tabungan warga sangat menentukan.

Itulah sebabnya salah satu pertimbangan Pemerintah dalam rangka penanggulangan Covid-19  adalah menerapkan PSBB, Pembatasan Sosial Berskala Besar, bukan memilih Lokcdown atau Karantina.

Bila lockdown yang dipilih, dikuatirkan dana Pemerintah yang  tersedia tidak mencukupi kebutuhan, apalagi kalau berkepanjangan. Demikian pula  suply pangan akan terganggu, karena  stock pangan kita yang terbatas yang lebih disebabkan kemandirian dan ketahanan pangan negeri ini belum begitu bagus.

Pendapatan Perkapita Negeri ini baru sekitar $US 4.000 ,jauh dibawah Jepang sekitar $US 43.500 , Korea Selatan $US 37.754  dan Singapura  $US 65.233. Padahal 1945 Jepang baru saja kalah perang dari Sekutu, dan Korea Selatan baru merdeka dua hari lebih awal dari Indonesia yaitu 15 Agustus 1945. Sedangkan Singapura merdeka dari Malaysia di tahun 1965.

Pricewaterhousecoopers, PwC (2017), memprediksi bahwa sesungguhnya Indonesia di tahun 2045 dapat menjadi Negara maju berkekuatan ekonomi peringkat ke 5 dunia dengan total pendapatan  $US 7 triliun dan pendapatan per kapita  $US 23.000 per tahun atau setara (kurs 15 ribu) dengan 365 juta rupiah. Ini tentunya sebuah harapan  yang harus diseriusi dengan menjadi tekad bersama.

Namun sebelum menuju  ke sana, masih  ada sejumlah tantangan menuju Indonesia hebat 2045, yang harus segera diselesaikan, kalau tidak mau terjatuh pada lubang yang sama. 

Ketahanan pangan kita yaitu kemampuan menyediakan dan distribusi  tergolong rendah. Berdasarkan  data Global Food Security Indek (2019), bahwa  Ketahanan Pangan Nasional berada di urutan ke 62  dari 113 Negara yang di ukur, dengan nilai indeks sekitar 62,6 dibawah Malaysia, Thailand dan Vietnam

Impor pangan dan energi kita di tahun 2019 relatif tinggi, meski ada penurunan dari tahun 2018.
Total  impor 2019 per Desember 2019 mencapai $US14,50 miliar terdiri pangan $US 12,37 miliar dan sisanya energi. Nilai impor bawang putih saja mencaoai enam triliun rupiah per tahun.

Selanjutnya angka Kemiskinan, pengangguran dan disparitas atau  ketimpangan masih tinggi, dan umumnya masalah ini berada di desa-desa. Data dari Indeks Desa Membangun, IDM tahun 2019 menunjukkan dari kurang lebih 78.000 desa,  sekitar 40 persen berkategori sangat tertinggal dan tertinggal, hampir 45 persen berkembang, sisanya berstatus maju dan mandiri. Selanjutnya Dalam lima tahun terakhir (2015-2020) Pemerintah mengalokasikan  dana desa  sekitar 320 triliun rupiah dengan kecenderungan meningkat.

Karena itu dengan sumberdaya yang dimiliki kita berkeinginan kuat untuk  (1) Menjadikan indonesia sebagai Negara hebat di tahun 2045; (2) Berkeinginan untuk melahirkan desa maju dan mandiri lebih banyak lagi agar warganya  memiliki pendapatan tetap, memiliki uang tabungan, beratitude patuh dan menguasai teknologi digital.

Harapan dari semua ini bila ada ancaman yang berkemiripan, warga pasti lebih siap, untuk menghindar agar   tidak masuk dan terperangkap pada  lubang yang sama. Karena itu perlu cara-cara baru yang lebih baik dan lebih modern. Diperlukan sejumlah pemimpin  di pusat dan daerah yang adaptif, inovatif, update serta  inspiratif agar warganya bisa termotivasi, bersemangat untuk membangun negeri ini secara bersama-sama. Semoga.

Oleh, Hasanuddin Atjo
Rabu, 8 Maret 2020.

Tidak ada komentar