Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Berita Terkini

latest

Khawatir Terjadinya Kekacauan, Kepala Desa Di Tasikmalaya Menolak Bagikan BLT

IndonesianPoint.com - Sejumlah Kepala Desa di Kecamatan Puspahiang Kabupaten Tasikmalaya menolak membagikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) d...

IndonesianPoint.com - Sejumlah Kepala Desa di Kecamatan Puspahiang Kabupaten Tasikmalaya menolak membagikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari pemerintah pusat. Karena anggaran yang tersedia di dana desa tidak mencukupi untuk didistribusikan secara merata kepada masyarakat.

Foto ilustrasi dari liputran6.com

Kepala Desa Puspahiang, Kabupaten Puspahiang, Totong Sukmara, mengatakan bahwa anggaran dana desa yang diterima dari pusat untuk desanya sekitar Rp 428 juta. Dalam ketentuannya, 30 persen desa harus dialokasikan untuk program BLT Dana Desa senilai Rp 120 juta.

Jumlah ini, katanya, tidak akan cukup jika dibagikan kepada 20 RT di desanya. Dia memperkirakan bahwa dengan anggaran sebesar itu hanya sekitar 3 penerima per lingkungan.
"Di desa saya ada 20 RT, artinya rata-rata per RT adalah Rp. 6 juta dibagi tiga bulan. Jadi per bulan hanya Rp. 2 juta. Paling-paling hanya ada tiga penerima per RT, bagaimana dengan yang lain? " Kata Totong, Senin (20) / 4/2020).
Khawatir konflik sosial dan menjadi bulan bulanan bagi penduduk, mereka keberatan jika bantuan pemerintah dalam bentuk BLT disalurkan di tingkat desa. Mereka menyerahkan proses pencairan dan distribusi oleh pemerintah Kabupaten Tasikmalaya.
"Karena nanti di tingkat pemerintahan desa, RT dan RW akan menjadi incaran warga ketika ada warga yang tidak perlu mendapat bantuan," kata Totong.
"Kami khawatir bahwa di masa depan akan ada gesekan yang nantinya akan menuduh desa, RW dan RT tidak kompeten dalam mengelola bantuan," tambah Totong.
Hal senada dikatakan oleh kepala desa Pusparahayu Rahmat Nugarah. Dia mengatakan, dengan bantuan yang akan diterima oleh masyarakat dikhawatirkan akan memicu konflik sosial karena distribusi yang tidak merata.

Pemerintah desa meminta agar bantuan ini dapat menyentuh semua orang miskin. Selain itu, dampak COVID-19 dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.
"Jangan biarkan pemerintah mengorbankan kita di desa dengan bantuan yang tidak memadai. Kemudian kita diserang oleh orang-orang yang tidak ingin serangan kita," kata Rahmat

Tidak ada komentar