Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Berita Terkini

latest

Ilmuan AS Telah Menemukan Mutasi Virus Corona Yang Jauh Lebih Mematikan

IndonesianPoint.com - Para ilmuan di Los Alamos National Laboratory Amerika Serikat, telah menemukan mutasi virus Corona yang memiliki st...


IndonesianPoint.com - Para ilmuan di Los Alamos National Laboratory Amerika Serikat, telah menemukan mutasi virus Corona yang memiliki strain jauh lebih mematikan dari sebelumnya.


Dilansir Sky News, virus Corona dengan mutasi terbaru itu telah melanda Eropa dan Amerika Serikat dan dikatakan dapat menginfeksi kembali pasien Covid-19 yang telah memiliki antibodi pasca pulih.

Peneliti di Los Alamos National Laboratory menjelaskan telah mendeteksi 14 mutasi pada protein lonjakan pada virus Covid-19 yang salah satunya dikenal dengan nama Spike D614G.

Dalam makalahnya, temuan itu menunjukkan bahwa strain virus Corona yang dominan menyebar di seluruh dunia--dan pertama kali teridentifikasi di Eropa--berbeda dengan yang penyebar di awal pandemi.

"Ceritanya mengkhawatirkan, karena kita melihat bentuk virus yang bermutasi muncul dengan sangat cepat, dan selama bulan Maret menjadi bentuk pandemi yang dominan," kata Dr. Bette Korber, penulis utama dalam studi tersebut.

"Ketika virus dengan mutasi ini memasuki suatu populasi, mereka dengan cepat mulai mengambil alih epidemi lokal, sehingga mereka lebih mudah menular," tambahnya, dilansir Sky News, Rabu (6/5/2020).

Mutasi pada protein lonjakan membuat ilmuan khawatir lantaran protein tersebut merupakan bagian paling efektif bagi Covid-19 untuk menyebar.

Protein lonjakan adalah molekul di bagian luar virus yang berguna untuk menempel dan menembus dinding luar sel manusia dan hewan.

Protein itu pulalah yang menjadi sasaran para ilmuan dalam mencari obat maupun vaksin Covid-19.

Salah satunya adalah dengan menemukan antibodi pengikat protein tersebut, agar mencegah virus bernama ilmiah SARS-CoV-2 itu menginfeksi sel manusia.

"Mengingat protein lonjakan ini sangat penting baik dalam hal infektivitas virus dan sebagai target dari antibodi, kami pikir suatu kebutuhan mendesak untuk meneliti lebih jauh mutasi ini," jelas Dr Bette Korber.

Tidak ada komentar