Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Berita Terkini

latest

The Time Is Money

Kolom, IndonesianPoint.com - Waktu adalah uang. Ungkapan ini benar adanya bagi sebagian orang. Bahkan di tengah pandemic corona, uang adal...

Kolom, IndonesianPoint.com - Waktu adalah uang. Ungkapan ini benar adanya bagi sebagian orang. Bahkan di tengah pandemic corona, uang adalah raja. Uang memiliki kekuatan untuk menambah iman juga bisa melahirkan angkara. Uang bisa membuat orang tawadhu, bisa juga membuat orang angkuh.

Rahman Arok, Wakil Sekretaris Pokjawas Madrasah Kantor Kemenag Polewali Mandar, tinggal di BTN Pesona taman Marwah F/17 Manding.

Bagi orang yang beriman uang adalah media untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. ementara sebagian orang menganggap uang adalah Tuhan yang dapat menegubah sifat kemanusiaan menjadi sifat Tuhan. Sombong karena uang bermakna uang menjadikan sombong, sedangkan yang pantas sombong hanya Tuhan. 

Dalam pemikiran awam seperti penulis, di tengah corona, saat ada himbauan agar stay at home, social distancing, jangan banyak keluar rumah jika tidak sangat penting, orang yang mengabaikan himbauan ini lalu seenaknya berkeliaran di luar rumah, mudik atau pulang kampong adalah bagian dari kesombongan. 

Kenapa keluar rumah dan mudik karena ada uang. Mana bisa pulang kampong kalau tidak membeli tiket, dan lain sebagainya

Sebagai orang yang beragama, jadikanlah uang sebagai media untuk ibadah. Di tengah covid 19 banyak orang terkena dampak wabah ini, mereka berkekurangan pangan dan sandang. 

Dengan uang dapat membantu meringankan beban mereka untuk membeli beras, lauk dan pakaian. Maka time is money yang berarti waktu adalah uang, kita manfaatkan tiada waktu tanpa menggunakan uang untuk kebaikan.

Lalu apa sih uang itu? Dr. H.M. Muflih B. Fattah,MM dalam bukunya “Mozaik Ekonomi Islam” menulis bahwa uang adalah “anything that is generally accepted as a medium of exchange” atau segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai alat bantu dalam pertukaran (Muflih BF, 2014: 54) jadi uang itu adalah alat bantu. Secara hokum, tulis beliau, uang adalah sesuatu yang dirumuskan oleh undang-undang sebagai uang. Jadi segala sesuatu dapat diterima sebagai uang jika ada aturan atau hukum  yang menujukkan bahwa sesuatu itu dapat digunakan sebagai alat tukar.

Dalam buku yang ditulis bersama Nuryanto, S.Ag, M.Si ini, tokoh yang sekarang ini sebagai Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, mengurai fungsi utama uang dalam teori konvensional. Menurut beliau fungsi uang adalah  (1) sebagai alat tukar (medium of exchange) uang dapat digunakan sebagai alat untuk mempermudah pertukaran, (2) sebagai alat kesatuan hitung (unit of account) untuk menentukan nilai/harga sejenis barang dan sebagai perbandingan harga satu barang dengan barang lain, (3) sebagai alat penyimpan/penimbun kekayaan (store of value) dapat dalam bentuk uang atau barang.

Manusia sebagai makhluk social tidak dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan sendiri. Ia butuh bantuan orang lain. Tanpa orang lain maka hidupnya serasa tidak sempurna. Dalam bersosialisasi dengan orang lain itulah uang harus ada. Mulai dari kebutuhan pangan, san dan dan juga papan.  Kebutuhan pangan lebih dikenal dengan sembako, Sembilan bahan pokok. Kebutuhan sandang meliputi kebutuhan pakaian yang menutup aurat dengan segala modelnya dan papan adalah kebutuhan yang menyangkut tempat tinggal. Dengan uang segala kebutuhan mudah didapat, maka banyak orang yang bekerja demi uang untuk memenuhi kebutuhannya.

Dalam pikiran sempit, rezeki adalah uang. Atau uang itulah rezeki. Padahal rezeki itu tidak terbatas hanya pada uang dan benda saja. Rezeki bukan harta semata. Yang perlu dipahami bahwa rezeki adalah rahmat Allah swt, bisa berupa kesehatan, kedamaian, keluarga yang bahagia, ilmu yang bermanfaat, bahkan sahabat yang baik sekalipun merupakan anugrah dari Allah penguasa sekalian alam. Nah, uang sebagai rezeki agar tetap bertambah maka sebagai ummat yang beriman harus selalu bersyukur. Ingatlah Firman Allah QS Ibrahim ayat 7 yang maknanya “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Dalam Islam uang adalah public good (milik masyarakat) dan oleh karenanya – sebagaimana ditulis dalam buku Mozaik Ekonomi Islam – penimbunan uang berarti mengurangi jumlah uang yang beredar. Implikasi dari penimbunan uang maka proses perekonomian akan terhambat. Jika memiliki uang jangan lakukan penimbunan sebab ini menghambat perekonomian. Namun tidak akan terjadi penimbunan kecuali memiliki sifat tamak dan kikir, malas berinfaq dan sedekah. Sifat-sifat tidak baik ini juga merupakan penghambat perekonomian.

Uang adalah ibarat cermin yang tak punya warna tetapi dapat merefleksikan semua warna, demikian Abu Hamid Al Gazali atau yang terkenal dengan sebutan Imam Al Ghazali dalam bukunya Ihya Uluumuddin. Ini bermakna bahwa uang tidak mempunyai harga, tetapi merefleksikan semua harga barang. Dalam ekonomi klasik, uang tidak memberikan kegunaan langsung,  artinya jika uang digunakan untuk membeli barang, maka barang itu yang memberikan kegunaan (Muflih, 2014: 59).

Jika waktu adalah uang, maka jadikanlah uang itu agar waktu yang tersedia tidak sia-sia. Gunakan waktu untuk bekerja, sehingga dengan bekerja kita mendapatkan uang. Kembangkan perekonomian dengan memanfaatkan waktu yang tersedia, sehingga dengan ekonomi yang berkembang, kita mendapatkan manfaat dari uang. Agar tidak merugi dalam melakukan kegiatan ekonomi, ingatlah firman Allah Swt QS. Al Ashri ayat 1-3 yang artinya “Demi Masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.

Uang akan memiliki makna plus ditangan orang yang beriman. Memiliki uang harus meningkatkan iman. Buah dari iman adalah amal saleh. Manfaatkan uang dalam rangka ibadah kepada Allah swt, dalam rangka meningkatkan iman dan taqwa, gemar menabung dan gemar membagikannya dalam bentuk infak dan shadaqah. Itulah amal saleh. Dan amal saleh itulah salah satu syarat bertambahnya rezeki (baca uang).

Uang terkadang melalaikan. Jika ada uang lupa teman, itu terkadang. Maka sebagai orang yang beriman hendaknya saling ingat memperingati dalam kebenaran. Kebenarannya, manfaatkan uang sebagaimana mestinya. Dan harus sabar dalam menggunakan uang dalam kehidupan. Manfaatkan uang dalam ibadah, meningkatkan iman dan amal saleh, serta menggunakan uang pada yang hak dengan sabar. Insya Allah kita akan menggunakan uang tanpa merugi, wallahu a’lam (Manding, 30 April 2020).

Tidak ada komentar